Sabtu, 03 November 2012

Sejarah Sumpah Pemuda


Sejarah Sumpah Pemuda


 
Tanggal 28 oktober 1928, sebagai tanggal yang dijadikan Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa Bangsa Indonesia telah lahir. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Moehammad Yamin.


 
Sejarah Hari Sumpah Pemuda
 
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

Johanna Masdani Tumbuan termasuk di antara 71 pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda Kedua, Oktober 1928 dan turut serta mengikrarkan Sumpah Pemuda yang berlangsung di sebuah gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya no. 106 Jakarta Pusat.

Johanna Masdani Tumbuan menjadi seorang saksi sejarah detik-detik Proklamasi Indonesia yang dilakukan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. Johanna Masdani Tumbuan juga ikut serta menyusun konsep pembangunan Tugu Proklamasi yang sederhana di depan rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur (kini Jl. Proklamasi) no. 56, Jakarta. Tugu ini kemudian dibongkar oleh Bung Karno, namun dibangun kembali pada tahun 1980-an. Baca juga pada Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia dan Sumpah Pemuda oleh David DS Lumoindong.

Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Jumat, 02 November 2012

Cerpen "Sahabat atau Cinta"

“SAHABAT ATAU CINTA”

               
Sakit, ya itulah yang aku rasakan. Pengkhianatan yang dia lakukan membuat hatiku terluka. Tapi aku mencoba untuk bertahan, karena dia sahabatku. Ini memang kesalahanku, tak seharusnya aku menyesali semua ini. Tapi aku hanya manusia biasa yang bisa ngerasain sakit dan pahitnya kehidupan.  Munafik...., yaa itulah kata yang pantas untukku. Aku yang telah mengingkari perasaanku sendiri terhadap seorang lelaki. Aku selalu berkata, bahwa aku hanya menganggap lelaki itu sahabatku. Namun sesungguhnya, jauh di dalam hatiku, aku sangat mencintainya, dan diapun juga begitu. Dulu, dia pernah menyatakan perasaannya padaku, tapi sedikitpun aku tak menggubris perkataannya. Entah apa yang ada di benakku dulu, hingga aku tak memperdulikannya. Benar kata orang, datangnya penyesalan memang selalu terlambat. Aku baru menyadari semua kekeliruanku selama ini, dan aku merasa sangat bersalah telah menyakiti perasaannya. Namun itu tak berguna lagi.
            Semua telah berakhir...., itulah yang terbesit di pikiranku. Rasa cinta dan sayang yang  ternyata aku miliki selama ini tidak berguna lagi. Hatiku terasa hancur berkeping-keping, setelah aku tau bahwa Daniel telah menjadi kekasih Lisa, sahabat karibku. Aku tak mampu berkata-kata, mulutku terasa kaku, dadaku terasa sesak saat Lisa menceritakan semua itu padaku. Lisa terlihat sangat bahagia, dan dia meluapkan semua kegembiraannya padaku, tanpa tau betapa sakitnya hatiku. Ternyata selama ini Lisa juga menyukai Daniel, bodohnya aku...., mengapa aku tidak pernah menyadari itu semua???? Mendengar semua luapan kegembiraaan Lisa, ingin rasanya aku memarahi dan memakinya. Tapi aku bukan  siapa-siapa Daniel. Aku hanya seorang perempuan yang telah menyakiti hati Daniel, dan mungkin kini dia telah membenciku, dan lebih memilih Lisa. Sedangkan Lisa itu sahabatku, dan aku memang tidak pernah bercerita tentang Daniel padanya. Jadi semua ini bukan salah Lisa.
            Sesaat kemudian, aku berlari menjauhi Lisa. Aku berlari tak tentu arah dan air matakupun pecah tak terbendung lagi. “Mengapa sakit yang kurasakan begitu dalam?? Apa ini yang pernah dirasakan Daniel dulu ??”, bisikku perlahan. “Tapi mengapa harus dia?? Mengapa harus Lisa Tuhaan ????”, aku berteriak sambil menangis. “Kalau seandainya yang menjadi kekasih Daniel itu perempuan yang tidak aku kenal, mungkin rasa sakitnya tidak akan seperti ini..., tapi ini,, Lisa. Sahabatku...,, orang yang sangat aku kenal!!!”, lanjutku.”tolong bantu hamba untuk merelakan semua ini Tuhan, jika memang inilah jalan yang terbaik untukku dan juga persahabatanku!!”, pintaku.  Setelah letih menangis, akupun pulang dengan wajah kusut. 
            Keesokan harinya, Lisa menelfonku dan bertanya aku kenapa. Sepertinya dia curiga dengan sikapku kemarin. “Kamu kenapa Rit ? Aku ada salah sama kamu ?”, tanya Lisa. “Enggak koq, kamu nggak salah apa-apa !!”, sahutku dengan nada lemas. “Trus kamu kenapa ? Kemarin sikap kamu aneh banget.”, tanya Lisa lagi. “Aku Cuma nggak enak badan aja koq, dan sekarang aku mau istirahat.., sory yaa ?”, kataku. “Oowhh,,,, kamu sakit ya? Biar aku anter ke dokter ya ?”, tanya Lisa. “Enggak koq, aku Cuma kurang istirahat aja, entar aja sembuh.”, kataku. “Yaa udah kalau kamu nggak mau ke dokter. Tapi inget lho,, jangan lupa minum obat, biar cepet sembuh !”, saran Lisa. “Iya Lis,, thanks yaa !”, balasku. Itulah Lisa, dia perhatian banget sama aku. Dia biasanya bawel banget kalau aku lagi sakit. Dia selalu ngingetin aku buat minum obat. “Tuhaann,,, gimana mungkin aku bisa terus-terusan jeoleus sama dia, kalau pada kenyataannya, aku nggak bisa lama-lama kesel sama dia. Dan lagian, Daniel juga emang udah milih Lisa. Jadi mau nggak mau aku harus bener-bener ngerelain Daniel. Ngerelain orang yang aku sayang bersama dengan sahabatku .”, ucapku .

***

            3 hari sudah aku tidak berhubungan dengan Lisa. Aku sengaja tidak menghubungi Lisa, dengan harapan aku bisa ngelupain semua masalah ini. Dan Lisa juga nggak pernah berusaha buat ngubungin aku, mungkin dia lagi sibuk pacaran sama Daniel. Tapi ya udahlah, malah bagus lagi,, semoga aku bisa cepet lupain semuanya. Tapi ternyata, dugaanku salah, jam 7 malam Lisa nelfon aku. Akupun mengangkat telfonnya. “Halo,,, kenapa Lis ?”, tanyaku. “Halo Rita,, kamu bisa ke taman sekarang nggak? Aku pengen cerita banyak sama kamu.”, pinta Lisa. Aku berfikir sejenak, lalu menjawab, “Sory Lis, aku nggak bisa.., lain kali aja ya.” Lalu Lisa menjawab, “Oowhh..,, iya dech,, nggak apa-apa!”, jawab Lisa dengan malas. “Maafin aku Lis, aku belum siap ketemu kamu, hati aku masih sakit dan aku belum mampu buat natap kebahagiaan di mata kamu. Kebahagiaan bersama Daniel, yang pada akhirnya akan mengingatkan aku pada Daniel.”, bisikku perlahan.
            2 hari setelah itu Lisa datang ke rumah untuk menjengukku, karena aku sedang sakit. Aku kaget banget pas liat Lisa masuk ke kamarku dengan membawa buah-buahan. “Udah mendingan Rit ?”, tanya Lisa, yang membangunkan aku dari lamunanku. “Eehhh,,, kamu Lis. Udah koq, kamu kenapa nggak bilang-bilang sich kalau mau kesini ?”, tanyaku. “Iya dong,, aku kan mau buat kejutan untuk my best friend..... Hehehe,,,,” jawab Lisa dengan banyolannya. “Hhee...” jawabku singkat. “Kamu sebenernya kenapa sich Rit ? Waktu ini aku ajakin kamu jalan, kamu nolak.., bingung dech aku..!!”, kata Lisa. Lalu aku menjawab, “Kamu nggak usah bingung, aku nggak kenapa-napa , aku Cuma nggak mood aja”, kataku berbohong. “Are u sure ?”, rayu Lisa. “Yessss.... hehehe,” jawabku sambil nyengir. Lisa memang sosok sahabat yang bisa merubah air mata dan kesedihan menjadi tawa dan kegembiraan. Makanya aku nggak bisa lama – lama kesel sama dia. Kemarahan yang aku pendam kali ini bisa dibilang kemarahanku yang pertama terhadap Lisa. Apalagi ini karena cowok.., “Ga banget dechh,,”, kataku.  Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bisa menerima hubungan Lisa dan Daniel, jika itu bisa membuat Lisa bahagia.

***

            Tepat 2 minggu setelah itu, Lisa menelfonku sambil menangis. Dia berkata bahwa hubungannya dengan Daniel telah berakhir, dan Danielah yang memutuskannya tanpa sebab. Aku tak tau harus berkata apa, karena aku nggak berhak ikut campur dalam masalah mereka, sekalipun Lisa itu sahabatku. Dan aku nggak mau lagi berurusan sama orang yang namanya Daniel... Aku hanya bisa menyuruh Lisa untuk sabar, sabar, dan sabar.
            Nggak lama setelah itu, hpku berbunyi. Saat ku lihat siapa yang menelfon, tepampang nama Daniel. Akupun mengangkatnya, meski aku tak yakin akan mendapat kabar baik. Disitu Daniel menceritakan semuanya. Tentang penyebab ia memutuskan hubungannya dengan Lisa. “Aku ?”, tanyaku padanya. “Iya, kamu. Aku masih sayang sama kamu Rita, itu sebabnya aku memutuskan hubunganku dengan Lisa. Aku udah nggak kuat Rit, terus-menerus membohongi perasaanku dengan cara berpura-pura mencintai Lisa. Padahal hatiku masih buat kamu !”, jawab Daniel dengan yakin. Awalnya aku marah,  karena dia udah nyakitin dan mempermainkan perasaan Lisa. Tapi aku mencoba untuk mengerti dan bicara baik – baik dengannya. “Tapi kenapa kamu tega nyakitin perasaan sahabat aku, Lisa,, Daniel ?? Kenapa ???”, tanyaku. “Aku terpaksa Rit, maafin aku. Aku kayak gini karena kamu, kamu yang ngebuat aku nyakitin Lisa, karena kamu selalu berusaha untuk nutupin perasaan kamu sendiri ke aku. Awalnya aku berfikir akan bisa ngelupain kamu dan mencintai Lisa. Tapi aku salah, aku justru semakin inget sama kamu Rita... !”, jawab Daniel. Aku ngerasa Daniel bener – bener menyesali perbuatannya, dan akupun nggak memperpanjang masalah ini lagii. “Ya udahlah, aku sadar aku emang salah, mungkin aku udah terlalu sering nyakitin perasaan kamu, . dan nggak ada yang perlu disesalin, toh semuanya udah terjadi. Kita nggak bisa muter waktu lagi. Tapi maaaffff banget Dan, mungkin sekali lagi aku harus nyakitin perasaan kamu. Aku tetap nggak bisa nerima cinta kamu, soryy bangett..”, jelasku. “Tapi kenapa sih Rit? Kamu tetep ngotot nggak mau nerima aku, padahal aku tau kamu sendiri juga suka kan sama aku ?, itu keliatan pas aku pacaran sama Lisa,”, tanyanya. “Oke, kamu bener.., jadi selama ini kamu cuma ng’jadiin Lisa pelarian kamu ?”, tanyaku. “Terserah kamu mau namain itu apa! Tapi yang jelas aku sayang sama kamu. Dan kamu tau seberapa besar rasa sayang aku ke kamu”, keluh Daniel. “Tapi kamu itu mantan sahabat aku sendiri. Lisa sayang banget sama kamu, apa menurut kamu aku harus nyakitin perasaan Lisa ?”, tanyaku. Lalu Daniel menjawab, ‘Aku tau itu. Trus gimana perasaan kamu? Apa kamu akan terus-terusan mengingkari perasaan kamu sendiri ?, tolong jangan buat aku bingung Ritt...!”, tanyanya. “Aku emang sayang sama kamu, tapi aku jauh lebih sayang sama sahabat aku !, aku lebih baik sakit hati dan kehilangan kamu, daripada aku harus kehilangan dan nyakitin perasaan Lisa.”, terangku. “Oke Riit,, aku akan coba seperti kamu, lebih memikirkan perasaan orang yang aku sayang, yaitu kamu, ketimbang perasaan aku sendiri. Aku akan coba untuk ngertiin kamu, meski kamu nggak pernah berusaha untuk ngertiin aku !!”, jawab Daniel dengan nada kecewa, dan langsung menutup telfonnya.

***

            Aku tau, aku udah nyakitin perasaan Daniel untuk yang kesekian kalinya. Tapi seenggaknya aku lega, karena aku udah ngambil keputusan yang terbaik untuk aku, Lisa, dan Daniel. Meskipun masih ada rasa canggung antara aku sama Daniel, tapi aku yakin perlahan rasa itu akan hilang. Sekarangpun aku sama Daniel sahabatan  dan  Daniel nggak dendam sama aku.  Mungkin rasa kecewa itu masih ada, tapi lambat laun pasti akan rapuh. Setelah beberapa lama aku  jalanin, ternyata persahabatan itu lebih indah dari kisah percintaan yang pernah aku alami. Kami jadi lebih mengenal kepribadian satu sama lain, lebih terbuka, kamipun sering curhat.  Dan aku bertekad  akan menjadikan Daniel sahabat aku selamanya, Daniel juga setuju. Kami akan mengubur masa lalu yang pernah kami alami. Dan biarlah kami menjalani kehidupan kami masing – masing tanpa ada hati yang tersakiti.......


THE END