“SAHABAT ATAU CINTA”
Sakit, ya itulah yang aku
rasakan. Pengkhianatan yang dia lakukan membuat hatiku terluka. Tapi aku
mencoba untuk bertahan, karena dia sahabatku. Ini memang kesalahanku, tak
seharusnya aku menyesali semua ini. Tapi aku hanya manusia biasa yang bisa
ngerasain sakit dan pahitnya kehidupan.
Munafik...., yaa itulah kata yang pantas untukku. Aku yang telah
mengingkari perasaanku sendiri terhadap seorang lelaki. Aku selalu berkata,
bahwa aku hanya menganggap lelaki itu sahabatku. Namun sesungguhnya, jauh di
dalam hatiku, aku sangat mencintainya, dan diapun juga begitu. Dulu, dia pernah
menyatakan perasaannya padaku, tapi sedikitpun aku tak menggubris perkataannya.
Entah apa yang ada di benakku dulu, hingga aku tak memperdulikannya. Benar kata
orang, datangnya penyesalan memang selalu terlambat. Aku baru menyadari semua
kekeliruanku selama ini, dan aku merasa sangat bersalah telah menyakiti
perasaannya. Namun itu tak berguna lagi.
Semua
telah berakhir...., itulah yang terbesit di pikiranku. Rasa cinta dan sayang
yang ternyata aku miliki selama ini
tidak berguna lagi. Hatiku terasa hancur berkeping-keping, setelah aku tau
bahwa Daniel telah menjadi kekasih Lisa, sahabat karibku. Aku tak mampu
berkata-kata, mulutku terasa kaku, dadaku terasa sesak saat Lisa menceritakan
semua itu padaku. Lisa terlihat sangat bahagia, dan dia meluapkan semua
kegembiraannya padaku, tanpa tau betapa sakitnya hatiku. Ternyata selama ini
Lisa juga menyukai Daniel, bodohnya aku...., mengapa aku tidak pernah menyadari
itu semua???? Mendengar semua luapan kegembiraaan Lisa, ingin rasanya aku
memarahi dan memakinya. Tapi aku bukan siapa-siapa Daniel. Aku hanya seorang
perempuan yang telah menyakiti hati Daniel, dan mungkin kini dia telah
membenciku, dan lebih memilih Lisa. Sedangkan Lisa itu sahabatku, dan aku
memang tidak pernah bercerita tentang Daniel padanya. Jadi semua ini bukan
salah Lisa.
Sesaat
kemudian, aku berlari menjauhi Lisa. Aku berlari tak tentu arah dan air
matakupun pecah tak terbendung lagi. “Mengapa sakit yang kurasakan begitu
dalam?? Apa ini yang pernah dirasakan Daniel dulu ??”, bisikku perlahan. “Tapi
mengapa harus dia?? Mengapa harus Lisa Tuhaan ????”, aku berteriak sambil
menangis. “Kalau seandainya yang menjadi kekasih Daniel itu perempuan yang
tidak aku kenal, mungkin rasa sakitnya tidak akan seperti ini..., tapi ini,,
Lisa. Sahabatku...,, orang yang sangat aku kenal!!!”, lanjutku.”tolong bantu
hamba untuk merelakan semua ini Tuhan, jika memang inilah jalan yang terbaik
untukku dan juga persahabatanku!!”, pintaku.
Setelah letih menangis, akupun pulang dengan wajah kusut.
Keesokan
harinya, Lisa menelfonku dan bertanya aku kenapa. Sepertinya dia curiga dengan
sikapku kemarin. “Kamu kenapa Rit ? Aku ada salah sama kamu ?”, tanya Lisa.
“Enggak koq, kamu nggak salah apa-apa !!”, sahutku dengan nada lemas. “Trus
kamu kenapa ? Kemarin sikap kamu aneh banget.”, tanya Lisa lagi. “Aku Cuma
nggak enak badan aja koq, dan sekarang aku mau istirahat.., sory yaa ?”,
kataku. “Oowhh,,,, kamu sakit ya? Biar aku anter ke dokter ya ?”, tanya Lisa.
“Enggak koq, aku Cuma kurang istirahat aja, entar aja sembuh.”, kataku. “Yaa
udah kalau kamu nggak mau ke dokter. Tapi inget lho,, jangan lupa minum obat,
biar cepet sembuh !”, saran Lisa. “Iya Lis,, thanks yaa !”, balasku. Itulah
Lisa, dia perhatian banget sama aku. Dia biasanya bawel banget kalau aku lagi
sakit. Dia selalu ngingetin aku buat minum obat. “Tuhaann,,, gimana mungkin aku
bisa terus-terusan jeoleus sama dia, kalau pada kenyataannya, aku nggak bisa lama-lama
kesel sama dia. Dan lagian, Daniel juga emang udah milih Lisa. Jadi mau nggak
mau aku harus bener-bener ngerelain Daniel. Ngerelain orang yang aku sayang
bersama dengan sahabatku .”, ucapku .
***
3 hari
sudah aku tidak berhubungan dengan Lisa. Aku sengaja tidak menghubungi Lisa,
dengan harapan aku bisa ngelupain semua masalah ini. Dan Lisa juga nggak pernah
berusaha buat ngubungin aku, mungkin dia lagi sibuk pacaran sama Daniel. Tapi
ya udahlah, malah bagus lagi,, semoga aku bisa cepet lupain semuanya. Tapi
ternyata, dugaanku salah, jam 7 malam Lisa nelfon aku. Akupun mengangkat
telfonnya. “Halo,,, kenapa Lis ?”, tanyaku. “Halo Rita,, kamu bisa ke taman
sekarang nggak? Aku pengen cerita banyak sama kamu.”, pinta Lisa. Aku berfikir
sejenak, lalu menjawab, “Sory Lis, aku nggak bisa.., lain kali aja ya.” Lalu
Lisa menjawab, “Oowhh..,, iya dech,, nggak apa-apa!”, jawab Lisa dengan malas.
“Maafin aku Lis, aku belum siap ketemu kamu, hati aku masih sakit dan aku belum
mampu buat natap kebahagiaan di mata kamu. Kebahagiaan bersama Daniel, yang
pada akhirnya akan mengingatkan aku pada Daniel.”, bisikku perlahan.
2 hari
setelah itu Lisa datang ke rumah untuk menjengukku, karena aku sedang sakit.
Aku kaget banget pas liat Lisa masuk ke kamarku dengan membawa buah-buahan.
“Udah mendingan Rit ?”, tanya Lisa, yang membangunkan aku dari lamunanku.
“Eehhh,,, kamu Lis. Udah koq, kamu kenapa nggak bilang-bilang sich kalau mau
kesini ?”, tanyaku. “Iya dong,, aku kan mau buat kejutan untuk my best
friend..... Hehehe,,,,” jawab Lisa dengan banyolannya. “Hhee...” jawabku
singkat. “Kamu sebenernya kenapa sich Rit ? Waktu ini aku ajakin kamu jalan,
kamu nolak.., bingung dech aku..!!”, kata Lisa. Lalu aku menjawab, “Kamu nggak
usah bingung, aku nggak kenapa-napa , aku Cuma nggak mood aja”, kataku
berbohong. “Are u sure ?”, rayu Lisa. “Yessss.... hehehe,” jawabku sambil
nyengir. Lisa memang sosok sahabat yang bisa merubah air mata dan kesedihan
menjadi tawa dan kegembiraan. Makanya aku nggak bisa lama – lama kesel sama
dia. Kemarahan yang aku pendam kali ini bisa dibilang kemarahanku yang pertama
terhadap Lisa. Apalagi ini karena cowok.., “Ga banget dechh,,”, kataku. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bisa
menerima hubungan Lisa dan Daniel, jika itu bisa membuat Lisa bahagia.
***
Tepat 2
minggu setelah itu, Lisa menelfonku sambil menangis. Dia berkata bahwa
hubungannya dengan Daniel telah berakhir, dan Danielah yang memutuskannya tanpa
sebab. Aku tak tau harus berkata apa, karena aku nggak berhak ikut campur dalam
masalah mereka, sekalipun Lisa itu sahabatku. Dan aku nggak mau lagi berurusan
sama orang yang namanya Daniel... Aku hanya bisa menyuruh Lisa untuk sabar,
sabar, dan sabar.
Nggak
lama setelah itu, hpku berbunyi. Saat ku lihat siapa yang menelfon, tepampang
nama Daniel. Akupun mengangkatnya, meski aku tak yakin akan mendapat kabar
baik. Disitu Daniel menceritakan semuanya. Tentang penyebab ia memutuskan
hubungannya dengan Lisa. “Aku ?”, tanyaku padanya. “Iya, kamu. Aku masih sayang
sama kamu Rita, itu sebabnya aku memutuskan hubunganku dengan Lisa. Aku udah
nggak kuat Rit, terus-menerus membohongi perasaanku dengan cara berpura-pura
mencintai Lisa. Padahal hatiku masih buat kamu !”, jawab Daniel dengan yakin.
Awalnya aku marah, karena dia udah
nyakitin dan mempermainkan perasaan Lisa. Tapi aku mencoba untuk mengerti dan
bicara baik – baik dengannya. “Tapi kenapa kamu tega nyakitin perasaan sahabat
aku, Lisa,, Daniel ?? Kenapa ???”, tanyaku. “Aku terpaksa Rit, maafin aku. Aku
kayak gini karena kamu, kamu yang ngebuat aku nyakitin Lisa, karena kamu selalu
berusaha untuk nutupin perasaan kamu sendiri ke aku. Awalnya aku berfikir akan
bisa ngelupain kamu dan mencintai Lisa. Tapi aku salah, aku justru semakin
inget sama kamu Rita... !”, jawab Daniel. Aku ngerasa Daniel bener – bener
menyesali perbuatannya, dan akupun nggak memperpanjang masalah ini lagii. “Ya
udahlah, aku sadar aku emang salah, mungkin aku udah terlalu sering nyakitin perasaan
kamu, . dan nggak ada yang perlu disesalin, toh semuanya udah terjadi. Kita
nggak bisa muter waktu lagi. Tapi maaaffff banget Dan, mungkin sekali lagi aku
harus nyakitin perasaan kamu. Aku tetap nggak bisa nerima cinta kamu, soryy
bangett..”, jelasku. “Tapi kenapa sih Rit? Kamu tetep ngotot nggak mau nerima
aku, padahal aku tau kamu sendiri juga suka kan sama aku ?, itu keliatan pas
aku pacaran sama Lisa,”, tanyanya. “Oke, kamu bener.., jadi selama ini kamu
cuma ng’jadiin Lisa pelarian kamu ?”, tanyaku. “Terserah kamu mau namain itu
apa! Tapi yang jelas aku sayang sama kamu. Dan kamu tau seberapa besar rasa
sayang aku ke kamu”, keluh Daniel. “Tapi kamu itu mantan sahabat aku sendiri.
Lisa sayang banget sama kamu, apa menurut kamu aku harus nyakitin perasaan Lisa
?”, tanyaku. Lalu Daniel menjawab, ‘Aku tau itu. Trus gimana perasaan kamu? Apa
kamu akan terus-terusan mengingkari perasaan kamu sendiri ?, tolong jangan buat
aku bingung Ritt...!”, tanyanya. “Aku emang sayang sama kamu, tapi aku jauh
lebih sayang sama sahabat aku !, aku lebih baik sakit hati dan kehilangan kamu,
daripada aku harus kehilangan dan nyakitin perasaan Lisa.”, terangku. “Oke Riit,,
aku akan coba seperti kamu, lebih memikirkan perasaan orang yang aku sayang,
yaitu kamu, ketimbang perasaan aku sendiri. Aku akan coba untuk ngertiin kamu,
meski kamu nggak pernah berusaha untuk ngertiin aku !!”, jawab Daniel dengan
nada kecewa, dan langsung menutup telfonnya.
***
Aku
tau, aku udah nyakitin perasaan Daniel untuk yang kesekian kalinya. Tapi
seenggaknya aku lega, karena aku udah ngambil keputusan yang terbaik untuk aku,
Lisa, dan Daniel. Meskipun masih ada rasa canggung antara aku sama Daniel, tapi
aku yakin perlahan rasa itu akan hilang. Sekarangpun aku sama Daniel
sahabatan dan Daniel nggak dendam sama aku. Mungkin rasa kecewa itu masih ada, tapi
lambat laun pasti akan rapuh. Setelah beberapa lama aku jalanin, ternyata persahabatan itu lebih
indah dari kisah percintaan yang pernah aku alami. Kami jadi lebih mengenal
kepribadian satu sama lain, lebih terbuka, kamipun sering curhat. Dan aku bertekad akan menjadikan Daniel sahabat aku selamanya,
Daniel juga setuju. Kami akan mengubur masa lalu yang pernah kami alami. Dan
biarlah kami menjalani kehidupan kami masing – masing tanpa ada hati yang
tersakiti.......
THE END